CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Kamis, 20 November 2008

Messi The next Maradona?


Argentina adalah sebuah negara di ujung selatan benua Amerika Latin yang kurang lebih 93% penduduknya beragama Katolik Roma. Tapi “agama kedua” mereka adalah Sepakbola. Dengan sepakbola, rakyat Argentina sejenak melupakan kondisi ekonomi mereka yang belum kunjung membaik dan kondisi politik yang dipenuhi dengan kudeta berdarah. Dengan kata lain, identitas nasional rakyat Argentina adalah sepakbola.
Jika sepakbola adalah Agama Kedua setelah Katolik Roma bagi orang Argentina, maka tak diragukan lagi, Si Boncel, Diego Armando Maradona adalah Sang Dewa, Dewa Segala Dewa Sepakbola bagi rakyat Argentina.
Bahkan bagi beberapa orang, Maradona adalah Sang Nabi, bahkan ada yang memujanya lebih daripada itu dengan mengatakan Maradona adalah Titisan Tuhan.
Begitu tingginya pemujaan rakyat Argentina pada legenda hidup sepakbola mereka memang dapat dimengerti. Maradona-lah yang mengembalikan keterpurukan kebanggaan identitas nasional mereka setelah kekalahan menyakitkan pada Perang Malvinas, 1982. Seorang Maradona mampu membuat mereka menari-nari semalam suntuk dan sejenak melupakan segala macam kesedihan dan himpitan hidup mereka.
Dan sampai sekarang, rakyat Argentina masih terus mencari pengganti Sang Dewa mengembalikan kejayaan sepakbola mereka. Mereka rindu melihat pemain-pemain Argentina lainnya menjadi pengganti seorang Maradona.

Harapan itu mulai muncul menyaksikan seorang pemuda berusia 19 tahun dengan tubuh yang sama kecilnya dengan Maradona, mulai memperlihatkan aksinya di sebuah klub ternama Liga Spanyol, Barcelona. Si kecil nan lincah itu menari-nari dengan tarian tango ala Argentina, menggocek lawan-lawannya, dan menggiring bola bukan seperti anak yang baru belajar bermain bola. Hampir semua orang terperangah dan akhirnya berkomentar, Inilah pengganti Sang Dewa

Lionel Andres Messi, lahir pada tanggal 24 Juni 1987 di Rosario, Provinsi Santa Fe, Argentina. Klub-klub yang pernah dibelanya antara lain Grandoli dan Newell’s Old Boys. Pada tahun 2004 dia dikontrak oleh salah satu klub terbaik dunia, FC Barcelona dan menjadi aset terbaik klub itu hingga saat ini.

Bagi saya pribadi, Messi adalah tipikal pemain dengan gocekan maut ala Maradona dan otak jenius ala Zinedine Zidane. Dengan kaki kiri yang dominan, dia mempunyai gaya bermain yang mirip dengan Maradona, kecuali dalam hal posisi. Maradona adalah tipe Playmaker/Striker sementara Messi bertipe Winger/Striker.

Kejeniusan ala Zidane diperlihatkannya dengan menunjukkan visi permainan yang sangat tajam. Umpan-umpan-nya akurat dan penyelesaian akhirnya juga maut. Yang membedakan Messi dengan Maradona dan Zidane adalah Messi bukan tipe sorang pemimpin di lapangan. Atau sampai saat ini kepemimpinannya terhadap tim belum kelihatan, sementara Maradona dan Zidane adalah pemain-pemain hebat dengan kepemimpinan yang juga hebat.

Banyak orang yang mengatakan bahwa Messi adalah pengganti Maradona. Bahkan seorang Maradona pernah mengatakan bahwa Lionel Messi adalah penggantinya. Ketika Lionel Messi mencetak gol “Tangan Tuhan Edisi Kedua” pada pertandingan antara Barcelona vs Espanyol, tanggal 9 Juni lalu, orang-orang lalu menyamakannya dan menyejajarkannya dengan Sang Dewa. Gol itu mengingatkan orang pada gol tangan tuhan Maradona 21 tahun yang lalu.

Benarkah Messi pengganti Maradona ?

Senin, 17 November 2008

BANDUNG uy

Emang Bandung gak ada matinya. Langsung saja kuinjak rem dan kuparkirkan kembali motorku (tak sedikit pula yang ikut memarkirkan motornya bersama denganku) untuk melihat ada apa gerangan. Walaupun tanpa tenda-tenda stand dan poto-poto gubernur dan wakilnya, kerumunan ini lebih ramai daripada di Gedung sate. Pengemasan acaranya sih sangat sederhana, tapi tidak dengan pengunjungnya. Mereka sangat apresiatif.

Ternyata, ada sebuah acara yang diadakan salah satu clothing. Kebetulan daerah itu (Trunojoyo dan sekitarnya) adalah basis clothing di Bandung.

Langsung saja aku mendekat ke kerumunan tersebut dan......WAW.... CLOSEHEAD???? Ah, tambah saja aku semangat untuk melihat (tradisional OK, Punkrock juga T.O.P B.G.T,heuheuheu). Kebetulan sekali aku juga sangat senang dengan Close Head. Mulai dari saat mereka membuat album kompilasi ”STILL PUNX STIL SUCKS” bersama rekan-rekan se angkatannya Rocket Rockers, Sendal Jepit, dan beberapa band Punk Rock lainnya. Wah ternyata anak-anak abege Bandong sebagian pada di sini, nonton Close Head. Keren lah. Barudak Bandung masih terus mendukung indie movement dan gerakan-gerakan sejenisnya. Masih mencintai karya-karya lokal Bandung sendiri (ya walaupun masih bnyk yg tuturut munding, tapi itulah urang sunda).

Terlihat hausnya barudak Bandung terhadap acara-acara lokal yang pada tahun sebelum millennium sangat berjaya, tidak seperti sekarang, mau ijin tempat buat pagelaran seni indie saja susah. Terlebih akibat kejadian memilukan bulan Februari lalu. Antusiasme barudak Bandung terhadap acara-acara kelokalan komunitasnya, terlihat saat GOR SAPARUA kembali diaktifkan oleh anak-anak dari Gimmick (Edy Brokoli CS) beberapa bulan yang lalu. Walau sempat dihentikan di tengah-tengah acara oleh pihak kepolisian, tapi barudak Bandung sangat menghargai adanya acara tersebut. Acara tersebut tidak menimbulkan hal-hal yang di khawatirkan oleh pihak kepolisian. Semoga itu dapat membuktikan bahwa barudak Bandung damai anti rusuh.

Mari kita lihat perbedaan kegiatan anak muda Bandung yang ternyata lebih memilih mensuport kominitas Indie Movement ketimbang seni budaya lokal yang diselenggarakan resmi kerja sama dengan pemerintahnya sendiri (abis emang bagus-bagus juga, sih, band lokal Bandung. Percaya deh sama gw).

Ternyata sangat terasa, bagaimana bedanya, orang-orang di sekitar kita menghargai karya seni dan komunitasnya. Apapun budayanya, yang penting tetap bersatu menjaga Bandung

Seakan masih tidak percaya dengan kejadian hari Minggu kemarin, pada hari Senin pagi, aku buru-buru saja mencari informasi di media online lokal yang menjadi langgananku setiap pagi. Langsung saja aku buka pikiran-rakyat.com dan tribunjabar.co.id.

Yupiiii…benar saja aku menemukan berita yang aku cari. Dahsyat banget. Ternyata, yang datang kemaren dan pada bawa kamera gede-gede itu, ada yg wartawan dari dua surat kabar ini. Tak disangka ternyata mereka juga merasakan atmosfir yang aku rasakan saat itu. Lebih parah lagi di sini mereka hanya bisa memasukan poto dan keterangan potonya saja. Di media yang satunya lagi , masih agak mendingan lumayan ada beberapa paragraf untuk mengulas acara yang di Gedung Sate (19/10) hari itu.

Setelah dibaca dari berita mereka, pihak-pihak yang terkait memang terlihat tidak serius menyikapi acara tersebut. Lebih parah lagi disebutkan, Ketua Panitia Ananto Pratikno sudah berangkat ke Jakarta sejak Minggu (19/10) siang(paraaaaaah). Semoga para penggiat seni di Bandung tetap melaukan ’pergerakan’ walaupun kadang tak adil tapi seni harus tetap berjalan, jangan berhenti mewarnai Bandung

Kamis, 13 November 2008

Who's Daniel Pedrosa???

Daniel Pedrosa atau biasa dipanggil Dani Pedrosa lahir pada tanggal 29 September 1985 di Sabadell, Spanyol. Pria yang berpostur tubuh 158 cm dan berat 51 kilogram ini adalah pembalap utama pabrikan Honda yang bergabung bersama tim Repsol Honda HRC. Walau bertubuh relatif kecil untuk ukuran orang Eropa, Pedrosa mempunyai prestasi yang luar biasa di ajang balap motor dunia.

Karirnya di dunia balap motor dimulai ketika ia baru berusia 12 tahun dengan menjadi juara 3 pada Spanish Pocket Bike Championship. Setahun kemudian, dengan semakin matangnya keterampilan membalapnya, ia berhasil menjuarai Spanish Pocket Bike Championships. Setelah menjadi juara Spanish Pocket Bike, tahun 1999 Pedrosa mulai menapaki kejuaraan balap yang lebih tinggi lagi, yaitu Movistar Activa Joven Honda Cup. Pada tahun itu ia menempati posisi ke-8 dengan menggunakan motor Honda RS 125. Tahun berikutnya (2000), ia pindah lagi ke kejuaraan Spanish Championship 125cc dan berhasil meraih posisi ke-4 dengan menggunakan motor Honda RS 125.

Setelah menjadi juara kelas 125cc di seantero Spanyol, pada tahun 2001 Pedrosa mulai menapaki kejuaraan balap motor dunia, yaitu MotoGp. Masih dengan menggunakan motor Honda RS 125, pada tahun itu dia hanya berhasil menduduki peringkat ke-8 pada klasemen akhir kejuaraan. Setahun berikutnya, masih di kelas 125cc bersama tim Telefonica Movistar Honda JR, Pedrosa dapat memperbaiki peringkatnya menjadi urutan ke-3 pada akhir musim perlombaan tahun 2002. Baru pada musim balap tahun 2003, masih bersama tim yang sama, Pedrosa berhasil menyodok ke peringkat pertama dengan meraih total poin 223.

Sukses menjadi juara dunia di kelas 125cc, merupakan modal bagi Pedrosa untuk menjejakkan langkahnya ke kelas yang lebih tinggi, yaitu kelas 250cc. Pada tahun pertama debutnya di kelas 250 cc, bersama tim Telefonica Movistar Honda 250, ia langsung menjadi juara dunia Grand Prix 250cc. Satu tahun kemudian (2005), ia kembali mendominasi balapan dan mempertahankan gelar juara dunia GP 250cc.

Pada musim balap tahun 2006, Pedrosa mulai tampil di kelas utama (MotoGp). Masih menggunakan motor Honda, ia bergabung bersama tim Repsol Honda HRC. Tim ini adalah tim besar yang telah membawa Michael Doohan merebut gelar juara dunia 5 kali berturut-turut (1994, 1995, 1996, 1997, 1998), Alex Criville menjadi juara dunia tahun 1999, dan Valentino Rossi menjadi juara dunia tahun 2002 dan 2003.

Tahun pertama tampil di kelas MotoGp ini prestasi Pedrosa belumlah seberapa. Selain harus beradaptasi dengan kendaraan barunya, ia juga mendapat saingan ketat dari para pembalap senior yang lebih dulu malang melintang di balapan MotoGp. Meskipun demikian, ia sempat menjadi juara ke-3 pada musim balap tahun itu (2006). Sebagai catatan, di tahun 2006 ini yang menjadi juara dunianya adalah rekan satu tim Pedrosa, yaitu Nicky Hayden.

Pada musim balap tahun 2007, seiring dengan adanya perubahan regulasi dari 1000cc menjadi 800cc, Pedrosa yang berpostur kecil ini ditunjuk sebagai pembalap utama pabrikan Honda. Hal ini sempat membuat beberapa pembalap Honda, terutama juara bertahan waktu itu Nicky Hayden, menganggap bahwa Honda sengaja menciptakan tunggangan yang khusus untuk Pedrosa. Namun, lepas dari anggapan miring tersebut, Pedrosa mampu menunjukkan prestasinya dengan menjadi runner up pada musim balap tahun 2007, di bawah Casey Stoner.
(zeezone)

Emo Style


Banyak yang memaknai kata emo sebagai sebuah genre musik, yang sebenarnya tidak juga salah. Namun kata emo sebelumnya sudah digunakan untuk mendeskripsikan sebuah fashion style dan attitude.

Kata emo digeneralisasi dengan perasaan galau dan melankolis. Perasaan emo ini paling dapat dilihat dari penganutnya dengan gaya rambut mereka yang khas, yaitu rambut lurus yang panjang di bagian depan, menutupi sebelah mata.
Untuk pakaiannya, emo style merupakan perpaduan dari gaya indie dan budaya punk. Warna yang dominan pada emo style adalah warna khaki, walaupun tidak selalu. Kaos yang dipakai berukuran pas badan, bahkan cenderung kekecilan sehingga mengatung di bagian lengan. Corak dari kaos adalah gambar atau symbol-simbol band atau artis rock.

Yang unik dari emo style ini adalah pria banyak memakai jeans dengan potongan wanita dipadukan dengan ikat pinggang punk. Selain itu, aksesoris yang umum dipakai dalam emo style adalah kacamata ber-frame hitam, wristband, arm socks, sweat bands dan pastinya, piercing.

Untuk alas kaki mereka yang paling banyak dipilih adalah Converse All Star, namun banyak juga yang menggunakan Vans serta sepatu skate lainnya. Dan yang terakhir yang merupakan pelengkap dari emo style adalah backpack atau messenger bags yang dipenuhi oleh pin.